Melihat Kemegahan Arsitektur Masjid Bir Ali (Miqat), Tempat Singgah Para Jamaah Haji

Bir Ali adalah sebuah tempat miqat (miqat zamani) bagi
penduduk Madinah yang akan berumrah atau berhaji, sebagaimana dicontohkan Nabi.
Jadi hanya jamaah haji gelombang pertama atau jamaah umrah yang mendahulukan
Madinah yang dapat merasainya.

Masjid Bir Ali hanya berjarak kurang dari
15 menit perjalanan dari Madinah. Di sanalah jamaah lakai-laki mengenakan
pakaian ihram (atau biasanya telah dikenakan di Madinah), bersuci, sholat dua
rakaat dan memulai niat ihram dan bersiap umrah. Jarak Bir Ali ke Mekah sekitar
450 km yang biasanya ditempuh dalam 4-6 jam. Dan sepanjang jalan itu pula,
jamaah telah memulai mematuhi beberapa larangan ihram

Jaraknya persis sebelas kilometer dari
Masjid Nabawi Madinah. Jarak lebih dan tak kurang satu sentimeter pun. Namanya
Masjid Bir Ali. Seluruh jamaah haji gelombang II, pasti singgah di masjid ini.
Karena di situlah mereka mengambil tempat miqat untuk umrah. Sedangkan, sebagian
jamaah haji plus, mereka mengambil miqat untuk haji.

Masjid ini terletak
di jalan raya menuju Makkah dari Madinah. Karena sebagai tempat mengambil miqat
itu juga, Masjid Bir Ali dikenal dengan nama Masjid al Miqat. Ada juga yang
menyebutnya Masjid al Ihram. Masjid yang satu ini memiliki bermacam
nama.

 

peristiwa
sejarah. Dahulu, Nabi Muhammad SAW pernah duduk di bawah pohon saat menuju
Makkah. Di dekat pohon itulah masjid ini dibangun dan Nabi shalat di
dalamnya.Selain Masjid al Miqat, masjid ini juga
dikenal dengan nama Masjid as Syajarah (pohon). Nama itu merujuk

Masjid al Miqat ini juga dikenal dengan nama Masjid Dzul
Hulaifah. Disebut demikian karena itulah nama distrik atau daerah tempat masjid
ini berada. Di sebut Bir Ali karena di daerah ini ada sumur milik Imam Ali kw.
Beberapa penduduk asli masih mengingat lokasi sumur itu yang konon tak jauh dari
masjid. Lokasi masjid ini cukup unik. Jika dillihat dari kejauhan masjid ini
seolah berada di lembah. Dari jauh hanya tampak menara tunggalnya saja. Menara
itu menyembul dari balik pepohonan yang rimbun di tengah bukit
bebatuan.

Masjid ini merupakan miqat makani atau
tempat untuk memulai ihram. Di sini seluruh jamaah yang hendak umrah, berganti
pakaian ihram, berniat dan shalat dua rakaat sunnah ihram. Arsitektur masjid ini
istimewa karena banyak lorong terbuka atau galeri di dalamnya. Di tengah lorong
itu ada pepohonan. Di situ jamaah bisa istirahat sejenak dan menyaksikan
pemandangan sekitar.
Masjid ini juga cukup luas ditopang
areal parkir dan kamar mandi yang banyak. Bagi yang belum sempat mandi ihram, di
sini masih dimungkinkan. Masjid ini dibangun lagi pada masa pemerintahan Umar
bin Abdul Aziz saat ia menjabat Gubernur Madinah sekitar 87-93 Hijriah. Kemudian
keberadaan masjid ini merosot hingga dibangun lagi oleh Zaini Zaiunddin al
Istidar pada tahun 861 Hijriah (1456 M). Dinasti Usmaniah (Turki) juga sempat
merehab masjid ini pada tahun 1090 HIjriah (1679 M) melalui salah seorang Muslim
India.

Pada masa Raja Fahd bin Abdul Aziz, perluasan masjid dilakukan
secara besar-besaran. Lahan di sekitar masjid dibongkar untuk mendukung
fasilitas masjid seperti lahan parkir dan penunjang lain. Dengan renovasi itu,
luas areal Masjid Bir Ali menjadi sekitar 90 ribu meter per segi. Termasuk di
dalamnya ruang terbuka di sekitar masjid. Luas bangunan masjid saja 26 ribu
meter persegi. Sisanya, 34 ribu meter persegi terdiri dari jalan, areal parkir,
pepohonan, serta paviliun.

Lorong-lorong di dalam masjid sendiri
memiliki luas enam meter. Di galeri itu ditutup dengan kubah panjang di atas
Mihrab dengan tinggi 28 meter. Masjid ini memiliki menara dengan tinggi 64
meter. Menara itulah yang tampak dari kejauhan. Lantai masjid terbuat dari
marmer dan batu granit. Pintunya dari kayu dengan ruangan dilengkapi fasilitas
pendingin ruangan.

Di masjid ini terdapat 512 toilet dan 566 kamar mandi.
Hal itu untuk menunjang jamaah yang belum sempat mandi ihram dari pemondokan.
Ada juga kamar mandi dan tempat wudhu khusus bagi perempuan, jamaah cacat fisik,
dan juga orang tua. Kamar mandi itu dijaga oleh askar. Di kamar mandi perempuan,
penjaganya malah dari Indonesia yang mengenakan jubah hitam.

Areal parkirnya mampu menampung 500
kendaraan kecil dan 80 kendaraan besar. Konon renovasi masjid ini menghabiskan
dana 200 juta riyal Saudi. Sayang umumnya jamaah Indonesia tak bisa sepenuhnya
menyaksikan keindahan arsitektur masjid. Semata karena waktu yang amat terbatas.
Kendaraan hanya berhenti sejenak atau sekitar 15 menit memberi kesempatan kepada
jamaah untuk niat dan shalat sunnah ihram. Setelah ihram, keinginan untuk
melihat suasana sekitar masjid pun buyar. Saat itu hati sudah terkondisikan
ihram dan tak ingin lagi melihat yang lainnya kecuali memantapkan hati
untuk-Nya.

About merlung

sebuah kota kecamatan
This entry was posted in islami. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s